
Menulis artikel jurnal sering kali terdengar seperti pekerjaan yang berat bagi mahasiswa. Begitu mendengar kata penelitian, yang terbayang biasanya metodologi, data, analisis, sitasi, jurnal, dan berbagai istilah akademik lainnya. Akibatnya, penelitian terasa seperti sesuatu yang jauh dan sulit dimulai.
Padahal, penelitian bisa berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: rasa ingin tahu.
Itulah pendekatan yang saya gunakan ketika menjadi pemateri dalam kegiatan HIMASOS Tadris IPS pada Jumat, 25 September 2026. Kegiatan yang diikuti mahasiswa Tadris IPS semester 1 sampai 5 tersebut mengangkat tema “Kenal, Paham, dan Tulis sebagai Langkah Awal Menyusun Artikel Jurnal.” Saya sengaja tidak memulai pembahasan dengan definisi penelitian atau langsung membedah struktur artikel jurnal. Saya ingin mahasiswa terlebih dahulu merasakan bahwa cara berpikir penelitian sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berawal dari “Oh, That Thing?”
Salah satu cerita yang saya gunakan sebagai pembuka adalah kisah tentang odading. Konon, ketika seorang ibu dan anak Belanda sedang memilih-milih roti atau makanan di sebuah pasar, sang anak menunjuk salah satu makanan dan bertanya kepada ibunya. Sang ibu kemudian menjawab dalam bahasa Belanda, “Oh, dat ding?” yang kurang lebih berarti, “Oh, benda itu?” Cerita tersebut kemudian sering dikaitkan dengan asal-usul penyebutan “odading”.
Saya tidak menggunakan cerita itu untuk meminta mahasiswa langsung mempercayainya. Justru sebaliknya. Saya meminta mereka berhenti sejenak dan bertanya: benarkah demikian? Bagi saya, di situlah latihan berpikir ilmiah dimulai. Sebuah cerita bisa menarik, mudah diingat, bahkan sudah berulang kali diceritakan. Namun, ketika masuk ke dunia akademik, kita perlu membedakan antara cerita yang beredar dengan informasi yang benar-benar didukung sumber.
Mahasiswa kemudian diajak melihat bahwa penelitian membutuhkan kebiasaan untuk memeriksa informasi, mencari sumber, membandingkan keterangan, dan melihat bukti sebelum menarik kesimpulan. Dari cerita sederhana itu, saya ingin menunjukkan bahwa rasa penasaran terhadap sesuatu sebenarnya sudah merupakan titik awal. Persoalannya adalah apakah rasa penasaran tersebut berhenti sebagai obrolan, atau dikembangkan menjadi pertanyaan yang bisa diteliti.

Dari “Saya Mau Meneliti...” Menjadi Pertanyaan
Saya kemudian membawa mahasiswa pada contoh yang sedikit berbeda: “Saya mau meneliti kesabaran fans EMYU.” Kalimat tersebut tentu saja mengundang senyum. Namun, secara akademik, kalimat itu justru menarik untuk dibedah. “Kesabaran fans EMYU” masih merupakan topik. Belum menjadi penelitian.
Mahasiswa kemudian diajak bertanya: fenomena apa yang sebenarnya ingin dilihat? Apa yang membuat hal tersebut menarik? Apa yang belum diketahui? Pertanyaan seperti apa yang bisa diajukan? Misalnya, pertanyaan sehari-hari mungkin berbunyi, “Kenapa fans EMYU masih sabar?”
Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan menjadi pertanyaan yang lebih akademik, misalnya: “Bagaimana fans memaknai pengalaman mempertahankan dukungan terhadap tim ketika menghadapi hasil pertandingan yang mengecewakan?” Perubahannya terlihat sederhana, tetapi cara berpikirnya berbeda. Mahasiswa mulai bergerak dari sekadar menyebut topik menuju melihat fenomena dan merumuskan sesuatu yang benar-benar ingin diketahui. Saya sengaja menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Penelitian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang terdengar sangat akademik. Fenomena di sekitar kita bisa menjadi bahan penelitian selama kita mampu melihat persoalannya dan mengajukan pertanyaan yang tepat.
Serius untuk diteliti. Belum tentu serius untuk dijalani.
Lalu, Apa yang Belum Kita Ketahui? Setelah mahasiswa memiliki pertanyaan, tantangan berikutnya adalah menemukan research gap. Bagi mahasiswa yang baru mengenal penelitian, istilah ini mungkin terdengar rumit. Karena itu, saya mencoba menyederhanakannya dengan satu pertanyaan: “Apa yang belum saya tahu?”
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca penelitian terdahulu. Mahasiswa tidak harus langsung membaca puluhan artikel. Mereka dapat memulai dengan beberapa artikel yang relevan, terutama bagian abstraknya. Dari sana, mereka bisa memperhatikan apa yang sudah diteliti, siapa yang menjadi subjek penelitian, persoalan apa yang dibahas, dan bagian mana yang masih menyisakan pertanyaan.
Mencari gap bukan berarti harus menemukan sesuatu yang belum pernah ada di dunia. Sering kali, gap muncul karena penelitian sebelumnya menggunakan subjek yang berbeda, lokasi yang berbeda, perspektif yang berbeda, periode yang berbeda, atau menghasilkan temuan yang masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Pada tahap ini, mahasiswa mulai belajar bahwa membaca artikel bukan sekadar mencari kutipan untuk dimasukkan ke dalam tulisan. Artikel dibaca untuk memahami percakapan ilmiah yang sudah berlangsung dan mencari posisi penelitian yang akan mereka lakukan.
Artikel Jurnal sebagai Percakapan Ilmiah
Salah satu kesulitan mahasiswa ketika mulai menulis adalah mereka melihat artikel jurnal sebagai tulisan yang panjang dan penuh referensi. Saya mencoba mengajak mereka melihatnya dari sudut yang berbeda. Artikel jurnal pada dasarnya merupakan cara seorang peneliti menyampaikan hasil pemikirannya kepada komunitas akademik. Ada persoalan yang dibicarakan, pertanyaan yang ingin dijawab, bukti yang dikumpulkan, temuan yang diperoleh, dan makna yang kemudian dibahas.
Karena itu, membaca artikel seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang bisa saya kutip dari artikel ini?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Penulis sebenarnya sedang membicarakan apa?” Dari sana mahasiswa dapat mulai bertanya lagi: mengapa persoalan tersebut diteliti, apa yang ditemukan, apa yang berbeda dari penelitian sebelumnya, dan apa yang bisa dikembangkan dari penelitian tersebut.
Cara membaca seperti ini perlahan mengubah posisi mahasiswa. Mereka tidak lagi sekadar menjadi pembaca artikel, tetapi mulai belajar melihat bagaimana sebuah penelitian dibangun.
Dari Kenal, Menjadi Paham, Lalu Berani Tulis
Pada akhirnya, kegiatan tersebut saya arahkan pada tiga kata sederhana: kenal, paham, dan tulis. Kenal berarti mahasiswa mulai akrab dengan dunia artikel jurnal dan penelitian. Paham berarti mereka mulai mengerti bahwa penelitian berangkat dari persoalan dan pertanyaan, bukan sekadar dari keinginan mencari judul. Tulis berarti mereka mulai berani menuangkan gagasan berdasarkan apa yang telah mereka temukan dan pahami.
Saya tidak berharap setelah mengikuti satu kegiatan mahasiswa langsung menghasilkan artikel jurnal yang sempurna. Yang lebih penting adalah mereka tidak lagi melihat penelitian sebagai sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir atau oleh orang-orang yang sudah sangat menguasai dunia akademik.
Penelitian bisa dimulai dari rasa penasaran terhadap sesuatu yang sederhana.
Dari odading, mahasiswa belajar untuk tidak langsung percaya pada sebuah cerita. Dari contoh fans EMYU, mereka belajar bahwa topik belum otomatis menjadi penelitian. Dari pertanyaan “apa yang belum saya tahu?”, mereka mulai mengenal pentingnya membaca penelitian terdahulu dan menemukan ruang untuk mengembangkan pertanyaan. Namun, saya kira ada satu hal lagi yang perlu dibawa pulang oleh mahasiswa.
Ketika “Oh, That Thing?” Belum Cukup
Ketika mahasiswa sudah mulai mengenal artikel jurnal, memahami cara mencari persoalan, menemukan celah penelitian, dan menyusun pertanyaan, mungkin akan muncul satu respons sederhana: “Oh, that thing. Saya tahu sekarang.” Tetapi peneliti tidak boleh berhenti pada rasa sudah tahu.
Setelah “Oh, that thing?”, harus muncul pertanyaan berikutnya: “So what?”
Apa yang membuat hal itu penting untuk diteliti? Apa persoalan yang ada di baliknya? Apa yang belum kita ketahui? Mengapa temuan itu perlu dibicarakan? Dan apa maknanya bagi orang lain? Bagi saya, pertanyaan “So what?” itulah yang membuat sebuah rasa ingin tahu bergerak menjadi penelitian.
Mahasiswa tidak harus langsung menjadi peneliti yang hebat. Mereka bisa mulai dari hal yang sederhana: memperhatikan sesuatu, merasa penasaran, lalu berani bertanya lebih jauh.
Karena mungkin “Oh, that thing?” adalah awal dari pengetahuan. Tetapi “So what?” adalah awal dari penelitian.
Wisnu Hatami, M.Pd