Berita dan Informasi

Popup Book sebagai Alternatif Media Pembelajaran

Inovasi pembelajaran di kampus kadang muncul dari hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak terpikirkan. Salah satunya adalah saat saya meminta mahasiswa untuk membuat popup book sebagai media pembelaj...
Popup Book sebagai Alternatif Media Pembelajaran

Inovasi pembelajaran di kampus kadang muncul dari hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak terpikirkan. Salah satunya adalah saat saya meminta mahasiswa untuk membuat popup book sebagai media pembelajaran. Banyak yang awalnya kaget dan bertanya-tanya, apa itu popup book? Bagaimana membuatnya? Bukankah itu untuk anak kecil? Tapi justru reaksi itulah saya melihat peluang bahwa barangkali kita memang perlu keluar sebentar dari cara belajar yang terlalu kaku. Penulis menerapkan project pembuatan popup book ini pada mata kuliah Relasi Etnis Integrasi Bangsa dan mata kuliah Mitigasi Bencana Alam.

Ketika mahasiswa mulai mengerjakan proyek tersebut, penulis menyadari bahwa popup book bukan sekadar karya seni. Ia adalah proses belajar itu sendiri. Mahasiswa harus memahami materi, kemudian menyederhanakannya, lalu mengubahnya menjadi gambar dan mekanisme lipatan yang bisa bergerak. Ada momen ketika mereka harus berhenti sejenak, berdiskusi, atau bahkan mengulang dari awal karena konsep yang mereka buat ternyata tidak cocok kalau diterapkan secara visual. Beberapa juga saya lihat kesulitan pada awalnya, sehingga perlu untuk melihat kembali video tutorial pembuatan popup book.

Yang membuat penulis paling senang adalah melihat bagaimana kreativitas mereka tumbuh. Ada kelompok yang mencoba teknik lipatan rumit, ada yang fokus pada ilustrasi, dan ada juga yang menonjolkan alur cerita. Saya sering mendengar mahasiswa berkata “Ternyata seru ya bikin begini,” atau “Saya baru sadar materi ini gampang dipahami kalau dijadiin gambar.” Hal-hal seperti inilah yang jarang muncul ketika mahasiswa hanya diminta membuat tugas lain yang “lebih ilmiah”.

Proses ini juga membuat mahasiswa lebih “hadir” dalam pembelajaran. Mereka benar-benar menekuni apa yang dikerjakan, bukan sekadar mengerjakan tugas untuk mendapatkan nilai. Mereka berdiskusi, berbagi ide, dan saling mengoreksi. Kolaborasi semacam itu terasa lebih natural karena mereka sedang melakukan sesuatu yang nyata.

Bagi penulis sebagai dosen, popup book memberikan kesempatan untuk menilai mahasiswa dengan cara yang lebih autentik. Dari sebuah buku kecil dengan lipatan dan gambar, saya bisa melihat bagaimana mereka memahami konsep, bagaimana mereka menyusun alur, dan bagaimana mereka memikirkan pengalaman belajar orang lain. Nilainya bukan sekadar estetika, tetapi proses intelektual yang mereka lalui.

Yang menarik, inovasi ini mengingatkan penulis bahwa pembelajaran kreatif tidak harus selalu berbasis teknologi canggih. Di tengah maraknya AI dan aplikasi pembelajaran, popup book justru hadir sebagai media low-tech yang membuat mahasiswa menggunakan tangan, ide, dan imajinasi mereka secara bersamaan. Terkadang, hal-hal paling sederhana justru paling membekas. Melihat antusiasme mereka, penulis meyakini bahwa mahasiswa memang membutuhkan ruang untuk berekspresi. Popup book memberikan kesempatan itu. Tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu yang bermakna.

Pada akhirnya, membuat popup book bukan sekadar tugas kuliah. Pembuatan popup book merupakan pengalaman belajar yang meninggalkan jejak. Setiap lipatan, warna, dan gambar menjadi bukti bahwa mahasiswa bisa belajar dengan cara yang lebih hidup, lebih kreatif, dan lebih manusiawi. Hasil dari popup book tersebut juga dapat dilihat dan digunakan Kembali oleh adik-adik tingkatnya karena mahasiswa menghibahkan popup book yang mereka buat untuk pengembangan laboratorium Jurusan Tadris IPS FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.

Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas